Kisah Manusia Ransel

aroundtheworld

Bermodal koin 60 sen, Anton Krotov mmemulai petualangan gila. saat itu pada 1991 ia yang masih berusia 15 tahun nekat menjelajahi Uni soviet yang luasnya 2/3 daratan dunia.

setiap hari ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain menggunakan moda transportasi tumpangan, mulai dari mobil pribadi, truk pengangkut barang ,hingga helikopter. Dua bulan bertualang, Krotov telah menyambangi 86 dari 89 provinsi di negeri komunis yang berudara beku itu.

Sukses dengan debutnya, ia melangkah ke petualangan yang lebih gila: Berkeliling dunia. Maret lalu ,lelaki muslim asal Rusia itu sampai dijakarta. Indonesia adalah negara ke 49 yang ia singgahi. Setelah itu krotov melanjutkan  muhibah ke negeri-negeri lain yang menarik hati.

Dalam pandangan awam, yang dilakukan Krotov bisa disebut sebagai tindakan gila, betap tidak? melakukan perjalanan ke tempat – tempat jauh zonder bekal memadai. modalnya cuma tekad, semangat dan keberanian. Krotov membiayai petualangannya dengan menulis buku kisah perjalanan.

Sesungguhnya orang-orang semacam Krotov banyak dijumpai dimuka bumi. Mereka sering disebut atau menyebut diri sebagai backpacker. Istilah itu berasal dari tas ransel yang digunakan untuk membawa barang dan perlengkapan mereka selama di perjalanan. Pendek kata, Backpacker adalah penyuka travelling yang berprinsip : Berjalan sejauh jauhnya, dengan biaya semurah murahnya.

Ya, Backpacker adalah seni berpetualang. Alih-alih mengeluh, mereka justru menikmati perhalanan yang berfasilitas minim itu. kesulitan-kesulitan yang terjumpai disepanjang jaan, disikapi sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Eko Nursanty yang seorang backpacker asal Semarang, punya pengalaman soal itu.

Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Untag tersebut kerap pelesiran ke luar negeri dengan ongkos minimal. Santy, sapaan arab Eko Nurasanty, pernah mengunjungi Singapura, Malaysia, dan Thailand selama 12 hari hanya dengan Rp. 2,3 juta.

Pernah 10 hari berkeliling Singapura, Malaysia, dan china dengan bekal Rp 4,3 juta. Ibu ssatu anak itu juga punya pengalaman melancong empat hari di Singapura dengan modal Rp. 1,5 juta.

Tentu, Santy harus bersiasat untuk menekan pengeluaran. Demi mendapatkan tiket pesawat murah, misalnya, ia harus memesannya jauh-jauh hari. sebagai anggota komunitas travelling internasional, Santy punya kesempatan beroleh harga supermurah. Suatu ketika, penggagas “Semarang Backpacker Online Shop” itu pernah memperoleh tiket Air Asia rute Jakarta – Vietnam dengan harga Rp. 15.000 saja !

Soal Penginapa, ia memilih hostel yang bertarif murah. Memang, penginapan jenis ini tak memberikan ruang privasi, karena harus rela berbagi tempat dengan orang lain.  “satu kamar diisi 4 – 8 bed. Biasanya berupa ranjang susun. Untuk menyimpan barang disediakan locker. Kamar Mandi berada diluar. Hostel menjadi andalan para backpacker.

Sudah murah, disana kita bisa memasak dan mencuci pakaian sendiri. kelebihan lainnya ,hostel biasanya dilengkapi free internet, komputer, dan hotspot area,” kata perempuan berjilbab yang kitni menjadi duta Indonesia untuk Travelers for Traveler, komunitas pelancong internasional yang berpusat di Belanda itu.

Meski lebih banyak sukanya, Santy mengakui, selama perjalanan sering menemui hal-hal yang tak terduga. mulai dari tertahan di imigrasi, penerbangan yang terlambat, hingga dipusingkan oleh kendala bahasa. Namun sejauh ini, semua itu bisa ia atasi dengan baik. Dedengkot backpacker dan travelling dari Yogyakarta, Matatita, menuturkan ,backpacker sangat identik dengan perhalanan berbekal minim, untuk itu pelakunya harus siap secara fisik dan mental. Backpacker, kata dia, harus tahan banting, luwes beradaptasi di tempat baru, serta melatih jiwa kemandirian.

“Yang kita alamai diperjalanan dapat dimaknai secara lebih luas sebagai proses kehidupan. Karena bagi saya, backpacker adalah proses belajar hidup,” kata perempuan yang telah mengunjungi belasan negara di Asia dan Eropa itu.

Di Indonesia, fenomena backpacker muncul sekitar tahun 1980-an. Ikonnya adalah Gola Gong yang terkenal dengan tulisan-tulisan perjalanannya di sebuah majalah remaja terbitan Jakarta, Seiring berjalannya waktu, kaum backpacker kian banyak. Mereka yang awalnya bertualang sendiri-sendiri, mulai membentuk komunitas dan jejaraing, Dalam hal ini mereka memanfaatkan internet sebagai media komunikasi efektif.

www.backpacker indonesia.com, misalnya ,menjadi semacam pangkalan kaum backpacker indonesia. Selain referensi tempat wisata dalam dan luar negeri, situs ini juga menyediakan informasi mengenai pake perjalanan sekaligus hargaa tiket pesawat dan hotel murah. Tak hanya berinteraksi di dunia maya, sekali waktu para anggota juga bertemu secara nyata. Yang terbaru di ajang kopi darat 9 April lalu di Yogyakarta.

Selain itu para manusia ransel juga berinteraski melalui situs jejaraing sosial seperti Facebook dan Twitter. Berbagai halaman tentang backpacker di FB misalnya Backpacker Travel, Backpacker Murah, Backpackers, karimunjawa for Backpacker, Backpacker Magazine, Majalah info Backpacker dan Forum Backpacker Indonesia.

Memalui halaman ini, backpacker bisa berkenalan dengan pecinta bakpacker lain di penjuru dunia. Bertukar informasi, tips ,atau sekedar berbagi foto dan video juga menjadi keasyikan tersendiri sebelum merencanakan perjalanan. Sedangkan di twitter, mereka bisa follow@forumBI. Ini adalah akun Twitter resmi milik Forum Backpacker Indonesia.

Salah seorang backpacker yang memanfaatkan forum dunia maya adalah Nisa Arfianan. Perempuan 24 tahun asal Yogyakarta itu mengaku pernah melakukan perjalanan ke Singpura, Malaysia dan Thailand selama 10 hari setelah berkenalan dengan backpacker lain di internet. Saat itu, Fian sapaan Nisa Arfianan bahkan tinggal bersama penduduk lokal dikawasan Yi Shun, Singapura.

“Aku tidak terlampu khawatir dengan teman yang baru kukenal diforum dunia maya. Yang petning yakin saja.” ujar Fian.

hal serupa diugemi Annisa Srwiyanti, aktivis LSM yang mukim di Jakarta. Ia yang bergabung dengan beberapa komunitas backpacker mencoba menepis kekhawatiran yang acap muncul dalam dirinya. Belum lama ini, Annsia melakukan solo travelling ke Vietnam. Perempuan 31 tahun itu pernah kemalaman di Siem Riep. Padahal ia harus segera berangkat ke Ho Chi Minh. Dengan keyakinan seorang backpacker ,Annisa memantapkan diri menumpang bus sebanyak dua kali.

“untung saat itu ketemu backpacker lain. Dialah yang membantu menunjukkan alamat hotel yang sudah saya booking. kami sesama backpacker saling percaya,” terang Annisa yang selalu membawa peta dan kompas dalam perjalanan.

Matatita, menggarisbawahi soal kepercayaan dalam dunia manusia ransel. kepercayaan itu, kata dia, akan tumbuh pada diri backpacker yang kerap bertualang, Kesulitan yang dialami selama dalam perjalanan, dengan sendirinya akan menumbuhkan empati terhadap backpacker lain.

sumber : SuaraMerdeka, 24 April 2011 – Ekspose hal A

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s