Heli anti kapal Selam, antara Agusta atau Seasprite ?

war

All hands,

Kebutuhan TNI AL akan armada Helikopter anti kapal selam sudah tak bisa ditunda terlalu lama lagi, sebelumnya TNI AL hanya memiliki 2 Heli anti KS yang usianya sudah tua sehingga sudah dipensiunkan. Menurut Kementrian Pertahanan, TNI AL membutuhkan 11 Heli anti KS yang akan dibeli pada 2014 mendatang guna memenuhi target Minimum Essential Force (MEF) dan sebagi pendukung kehadiran 3 kapal selam baru yang dipesan dari Korea Selatan.

Pihak kementrian pertahanan masih membahas 2 calon Heli yang masih  akan dikaji lebih lanjut untuk memilih mana yang paling tepat untuk TNI AL yakni AgustaWestland AW101 dan The Kaman SH-2G Super Seasprite (Varian Terbaru). Nah dari kedua jenis ini manakah yang memiliki performa terbaik terlepas dari pengaruh harga yang ditawarkan. Berikut perbandingan ringan antara Augusta dengan Seasprite :

1978314

SEASPRITE :

History

The Kaman SH-2G Super Seasprite merupakan helicopter Buatan Kaman Aircraft Corporation (USA) dengan kemampuan anti kapal selam dan anti permukaan, termasuk memiliki radar over the horizon targeting yang memungkinkan untuk melacak target dengan cakupan area yang sangat luas mencapai ribuan kilometer.

Memiliki fungsi utama sebagai anti-submarine , anti-surface warfare, anti-ship missile defense, a anti-ship surveillance dan targeting. Selain itu juga memiliki fungsi kedua sebagai evakuasi medis, SAR, Angkut Personel dan Cargo, Patroli Perairan, amphibious assault air support, gun fire spotting, Pendeteksi Ranjau laut dan Pemantau pertempuran. Dengan Kemampuan ini, sudah diketahui bahwa Seasprite sangat multiguna dengan bermacam2 tugas yang bisa diembannya.

Pengguna Seasprite antara lain the Royal Australian Navy (RAN), The Royal New Zealand Navy (RNZN), USA (US NAVY). Beberapa Varian yang dimiliki : YSH-2G, SH-2G Super Seasprite, SH-2GA (Australian Export), SH-2E (Egypt Export), SH-2GM (Malaysia), SH-2GNZ (New Zealand) ,SH-2GI (International).

Spesifikasi (Wikipedia) :

  • Crew: 3 (pilot, co-pilot/tacticalcoordinator (TACCO), sensor operator (SENSO))

  • Length: 52 ft 9 in (15.9 m)

  • Rotor diameter: 45 ft 0 in (13.4 m)

  • Height: 15 ft 0 in (4.5 m)

  • Disc area: 44 ft 4 in (13.5 m)

  • Empty weight: 9,200 lb (4,170 kg)

  • Useful load: 4,390 lb (1,991 kg)

  • Max. takeoff weight: 13,500 lb (6,120 kg)

  • Powerplant: 2 × T700-GE-401/401C turboshaft, 1,723 shp (1,285 kW) each

  • Rotor systems: 4 blades on main rotor and tail rotor

    Performance

  • Never exceed speed: 150 knots (278 km/h, 173 mph)

  • Maximum speed: 138 knots (256 km/h, 159 mph)

  • Cruise speed: 120 knots (222 km/h, 138 mph)

  • Range: 540 nmi (1,000 km, 869 mi)

  • Service ceiling: 18,000 ft (3,000 m)

  • Rate of climb: 2,500 ft/min (12.7 m/s)

    Armament

  • Hardpoints: 2× side fuselage mounting stub/pylon stations

  • Missiles: Non-US aircraft carry a variety of guided missiles, including the AGM-65 Maverick (often used in the anti-ship role) and dedicated anti-ship missiles.

  • Torpedoes: 2× Mk 46 or Mk 50 ASW torpedoes

Harga per Unit : US$26 million (SH-2G)

AgustaWestlandEH101ItalianNavyalta

AGUSTA

History

The AgustaWestland AW101 merupakan helikopter angkut medium yang bisa digunakan untuk militer dan sipil. dikembangkan secara Joint Venture antara Westland Helicopter UK dengan Agusta Italia yang  diberi nama EH101 (sampai 2007). Dirancang menggantikan Sikorsky S-61 yang sudah tua sebagai transport medium dan anti kapal selam. AW101 terbang perdana pada 1987, operasional pada tahun 1999 dan pada 2000 Westland Helicopters dan Agusta merger menjadi AgustaWestland.

Negara pengguna AW101 antara lain : Algeria Navy, Royal Canadian Air Force, Denmark, Italian Navy, Japan Maritime Self-Defense Force, Portuguese Air Force, UK (Royal Navy and Royal Air Force) dan non militer digunakan oleh Tokyo Metropolitan Police Department.

Spesifikasi (Wikipedia) :

  • Crew: 3–4

  • Capacity: 8 troops or 4 stretchers (with sonar removed)

  • Length: 19.53 m-fuselage length (64 ft 1 in)

  • Rotor diameter: 18.59 m (61 ft 0 in)

  • Height: 6.62 m (21 ft 8¾ in)

  • Disc area: 271.51 m² (2,992.5 ft²)

  • Empty weight: 10,500 kg (23,149 lb)

  • Max. takeoff weight: 14,600 kg (32,188 lb)

  • Powerplant: 3 × Rolls-Royce Turbomeca RTM322-01 turboshafts, 1,566 kW (2,100 shp) (take-off power) each

    • Performance

      • Never exceed speed: 309 km/h (167 knots, 192 mph)

      • Cruise speed: 278 km/h (150 knots, 167mph)

      • Range: 1,389 km (750 nmi,[140] 863 mi)

      • Endurance: 5 hours

      • Service ceiling: 4,575 m (15,000 ft)

        • Armament

          • Bombs: 4× Sting Ray homing torpedoes or depth charges

            • Avionics

            • Smiths Industries OMI 20 SEP dual-redundant digital automatic flight control system
            • BAE Systems LINS 300 ring laser gyro, Litton Italia LISA-4000 strapdown AHRS
            • Selex Galileo Blue Kestrel 5000 maritime surveillance radar
            • Racal Orange Reaper ESM (ECM)
            • Thomson Marconi Sonar AQS-903 acoustic processor (SONAR)
            • Active/passive sonobuoys
            • Thomson Sintra FLASH dipping sonar array

              Harga Per Unit : US$21 million (2009)

              Well, dari data sederhana tersebut, diatas kertas Seaprite lebih unggul ketimbang Agusta. Namun terlepas dari sisi spesifikasi yang dipilih paling baik juga harus mempertimbangkan masalah politik dari negara produsen tersebut, mana yang menawarkan kebijakan paling pas buat Indonesia dan jumlah budget yang dianggarkan untuk ke 11 Helicopter. Disisi penjualan, Agusta terlihat lebih moncer dengan jumlah operatornya yang lebih banyak. Agusta mau Seasprite tentunya menawarkan Keunggulan masing-masing, kemampuan loby pembeli dibutuhkan agar mendapatkan penawaran yang menarik dari produsen dan terbebas dari ganjalan persyaratan secara politik.

              At least, analisa ane secara awam, Seasprite lebih condong sebagai heli perang yang mengedepankan teknologi dan persenjataan sedangkan Agusta merupaka Heli dual purpose yang tidak terlalu menonjokan sisi tempurnya dan sisi sipilnya. Bila TNI AL milih yang tidak terlalu garang dan harganya bisa murah dikit mungkin Agusta bisa jadi pilihan yang tepat, sebaliknya bila menginginkan efek deterens dan keunggulan tempur bisa memilih seasprite.

              Iklan

              17 thoughts on “Heli anti kapal Selam, antara Agusta atau Seasprite ?

              Tinggalkan Balasan

              Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

              Logo WordPress.com

              You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

              Gambar Twitter

              You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

              Foto Facebook

              You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

              Foto Google+

              You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

              Connecting to %s