Dewa Hujan Meriang, Kemarau tak kunjung Reda, Hujan tak kunjung Datang

Di bulan berakhirkan -ber ini, sudah sewajarnya bila musim penghujan tiba. Tapi pada kenyataannya, musim kemarau nan kering ini masih terus operasional. Jalanan menjadi kering, debu bertebangan,Daun-daun berguguran menambah beban petugas kebersihan kota, air kian terbatas membuat sebagian orang malas mandi, matahari membara di siang hari membuat perjalanan menjadi kurang nyaman. Semua buru-buru sampai ke tempat beratap guna berteduh dari ganasnya matahari.

Kemarau.. Membuat beberapa waduk menjadi surut, permukaan yang indah tak lagi terlihat yang ada hanyalah dasar waduk yang retak mengering, ntah bagaimana nasib penghuni waduk tersebut. Kemarau yang terjadi tiap tahun, memiliki dampak luas pada sector persawahan, akibatnya sudah jelas.. Petani dan masyarakatlah yang dirugikan. Di jawa Tengah, luas sawah yang mengalami kekeringan di akhir agustus 2012 mencapi lebijh dari 11.000 hektare, tersebar di kabutapen Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara. Di Jawa Barat mencapai 50000 hektare , Jawa Timur mencakup 23 wilayah, di Bali meliputi Jembrana, Karangasem, dan Tabanan. Kekeringan juga melanda provinsi lain di Nusantara.

Bagaimana bila lumbung padi nasional atau penghasil padi terbesar di Indonesia mengalami kegagalan panen, ini berpotensi membuat produksi beras nasional tak mencapi target yakni 67, 82 juta ton. Ironisnya, bukannya membantu dan mengatasi kekeringan yang terjadi, Pemerintah justru mengimpor bahan pangan seperti beras, kedelai, jagung, dan gandum demi menguntungkan salah satu pihak. Bila pemerintah terus melakukan Impor, petani akan semakin menderita. Sekarang, Indonesia sepertinya sudah tergantung pada Negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangannya, bila ini terus berlanjut tanpa ada upaya untuk menyelamatkan produksi bahan pangan dalam negeri sehingga meraih swasembada pangan, maka Indonesia bisa dengan mudah dihancur leburkan dengan cara menutup kran pengiriman bahan pangan.

Beralih ke Kemarau, di beberapa daerah sungai-sungai seakan sudah berhenti mengalir, sumber air lainnya seperti waduk pun demikian. PLTA yang memanfaatkan air sebagai pembangkit energy jelas juga mengalami kemerosotan produksi.  Tak ada yang bisa memprediksi tepat kapan kemarau akan segera selesai, pohon randu masih terus saja menggugurkan daun nya, awan pembawa hujan Commulus Nimbus tak kunjung menampakan wujudnya, sekarang pun susah menemukan siaran ramalan cuaca di televsisi nasional maupun swasta . Ada apa gerangan dengan Dewa Hujan, apakah beliau sedang tertidur atau meriang, apakah mesin hujannya rusak atau sedang masa maintenance, apakah ini sebuah cobaan bagi bangsa Indonesia? Well, terlalu banyak pertanyaan yang tak ingin dijawab. Semoga saja Dewa Hujan lekas meniupkan awan penghujan atau meng execute tombol Enter di mesin penghujannya.

Terkadang hujan berlebih tak dikehendaki, kemarau berkepanjangan juga sama, keseimbangan memang mutlak diperlukan, Yin dan Yang harus diterapkan.

~Bagi yang masih memasang boneka Teru Teru Bozu, lekas tanggalkan..

Iklan

16 thoughts on “Dewa Hujan Meriang, Kemarau tak kunjung Reda, Hujan tak kunjung Datang

  1. Di Bandung sini, bulan Juni masih hujuan, berarti kemarau baru 3 bulan saja. Tapi, aku suka musim kemarau, jalan tidak becek (tahu sendiri kondisi jalan di negeri ini :D), jadi jarang nyuci motor.

    Balas
    • hehehe..
      bisa jadi emang amrik emng punya benda dewa tsb.
      tp seringnya amrik g bisa ngelawan badai yg sering melanda US.
      ato mlh tu badai sengaja dibuat pake HAARP yah..
      konspirasi dah

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s