HQ-16, Pilar Sementara Sistem Pertahanan Udara Nasional

Hmm.. ane memulai menulis artikel ini dengan perasaan campur aduk antara bangga dan kecewa, bangga karena ternyata tulisan ane di blog ini “laku” dan disebar oleh orang lain. Kecewa karena tulisan ane di copas tanpa mencantumkan sumbernya. Baru pertama ini ane ngerasain gimana suka dukanya kena main copas tanpa aturan. Ok, Bom sudah jadi asap, sekarang  lebih baik go to the point.

Minna san,

Sudah cukup lama bahkan lama sekali wilayah udara nasional kita seolah tak terlindungi satu payungpun. Konsep sistem pertahanan udara nasional hingga era pencapaian MEF (Minimum Essensial Forces) sekarang belum juga mencapai kata final. Kemandirian dalam hal teknologi roket melalui proyek RX550 sampai sekarang juga mengalami banyak rintangan hingga kabar proyek ini seolah hilang ditelan isu2 politis. Sistem Pertahanan Udara Nasional sejatinya tak terlepas dari perkembangan TNI AU, hanya karakternya lebih dominan untuk daya tangkal dan perlindungan kedaulatan wilayah udara dari gangguan luar sesuai dengan namanya, Air Defence.

Sudah sewajarnya rakyat Republik Indonesia merindukan kembali kejayaan militer Indonesia dalam melindungi kedaulatan nasional khususnya wilayah udara, Semenjak Era Bung Karno nyaris TNI tak memiliki lagi rudal pertahanan udara, saat itu militer Indonesia memiliki S-75 Dvina (SA-2 Guideline) buatan Uni Soviet yang bisa menampar sasaran udara sejauh 45 km setinggi 20 km dengan kecepatan 3,5 Mach. Tak ayal Indonesia menjadi negara yang paling ditakuti dikawasan berkat arsenal pertahanan udaranya yang menakutkan. Di Era Pak Harto, perhatian lebih diarahkan untuk angkatan darat sehingga sistem pertahanan udara Indonesia hanya dibekali rudal jarak pendek (SAM Rapier) dan MANPADS (Man Portable Air Defense System). Berkat kepemimpinan Pak Harto lah kedaulatan nasional Indonesia masih disegani para tetangga.

About Hong Qi-16

Dalam daftar belanja ALutsista tahun depan, tercata bahwa TNI akan membeli rudal jarak menengah dengan keterangan detail masih belum ane ketahui. Ditahun 2012 lalu sebenarnya sudah menyeruak kabar bahwa TNI tertarik untuk memboyong seperangkat Rudal pertahanan Jarak menengah( land-based mid-range Surface to Air Missile /SAM) HQ-16 Buatan China, untuk varian ekspornya di beri nama LY-80. Rudal HQ-16 dikembangkan berdasarkan gabungan platform rudal Buk-M1 (SA-11 Gadfly) dan Buk-2M (SA-17 Grizzly) yang bisa ditanam di kendaraan mobile darat (truk) atau Kapal perang. Terdiri dari Unit radar dan Unit peluncur, Radar penjejak targetnya mampu mencium sasaran hingga jarak 150 km, rudalnya mampu mengejak target sejauh 50 km berketinggian 10 km. Disamping sasaran utama berupa pesawat tempur dan helikopter, HQ-16 juga diklaim mampu menembak jatuh drone (pesawat nirwak) ,rudal Tomahawk dan mengintersep rudal anti-kapal yang terbang rendah (sea-skimming) kurang dari 10 m dari permukaan laut.

HQ-16 diperkirakan mulai di kembangkan sejak tahun 1998 oleh  China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) sebagai suksesor dari HQ-12. Mulai memasuki masa dinas aktif di PLA pada tahun 2011 lalu sehingga alutsista ini termasuk masih tergolong hijau. Mobile land base nya diangkut dengan truk 6×6 Transporter Erector Launcher (TEL) yang membawa 6 tabung yang diluncurkan secara vertikal. Misilnya dilengkapi  semi-active radar seeker for guidance sehingga memiliki kepresisian yang cukup baik, Untuk varian angkatan lautnya disebut HHQ-16 dirancang untuk frigate Type 054A. Nilai plusnya HQ-16 juga bisa di integrasikan dengan sistem pertahanan udara lain seperti  long-range HQ9, short-range HQ-7 dan close-range LD-2000 ke dalam wujud sistem pertahanan udara terintegrasi multi lapis / a multi-layer Integrated Air Defense System (IADS). 

HQ-16

Air Defense System

Dengan kemampuan seperti disebutkan tadi, Rudal pertahanan udara HQ-16 bisa menjadi benteng utama pertahanan udara nasional hingga opsi pembelian S-300/S-400 masuk dalam keranjang belanja Alutsista Pertahanan RI. Bila memang HQ-16 menjadi pilihan sebagai alutsista Arhanud TNI maka paling tidak jumlahnya harus lebih dari cukup, minimal tiap provinsi strategis di Indonesia dipasang 1 unit HQ-16. Meski namanya tak se gahar S-300 yang dijamin bikin posisi bargaining militer Indonesia naik paling tidak Arhanud sudah memiliki ‘mainan’ yang layak untuk memayungi udara Nasional. HQ-16 bisa jadi sistem pertahanan udara yang mumpuni bila bisa digelar dengan cara yang cerdas dan strategis.

Sepertinya hal senjata pada umumnya, tak keren rasanya klo sistem pertahanan udara nasional kita tak memiliki nama seperti sistem pertahanan udara Israel yang bernama Iron Dome, Iran dengan sistem pertahanan udara RAAD (Thunder) nya yang baru saja sukses menguji coba klonengan S-300, Bavar 373.  Andai Kemhan jadi memborong sekarung HQ-16 kumplit, membentuk kesatuan khusus sebagai operatornya dibawah sub komando Arhanud dan telah siap ditempatkan diarea vital, ane mengusulkan sistem pertahanan udara nasional kita diberi nama ANTASENA (Aerial iNTegrated Air defenSE NAvigation), cool rasanya dg akronim dunia Wayang. Soal harga HQ-16 belum ditemukan info lengkapnya, tapi disinyalir lebih lunak didapatkan ketimbang S-300, belum lagi kedekatan Indonesia dengan China bisa dimanfaatkan untuk memberi keuntungan dalam pembeliannya nanti.

EFFECT

Nah pertanyaan nya, mampukah Pemerintah menyediakan anggaran untuk memborong HQ-16? apakah butuh perdebatan panjang nan absurd untuk memastikan Arhanud TNI berhak memilliki HQ-16? well yang ini kembali pada political will pemerintah dan DPR. Pertanyaan selanjutnya, Seberapa pengaruhkah kehadiran HQ-16 bagi perkembangan militer dikawasan? terutama bagaimana respon para tetangga kita, panik, galau, biasa saja atau pura2 ga tau? Apakah negara kita dapat ‘restu’ untuk memiliki sistem pertahanan udara? khawatirnya akan banyak pihak terutama Singapura dan Australia yang nantinya ngambek ke Bos Besar supaya menggagalkan upaya Indonesiaa memiliki sistem pertahanan udara yang kuat. Lha wong uji coba roket RX550 oleh LAPAN aja bikin tetangga panik, wacana pembelian S300 bikin tetangga jantungan. Yang jelas untuk mengatasi hadangan ini semua, kita berharap pada pemerintah untuk memainkan langkah cerdas nan strategis agar proses pembangunan air defense nasional mulus tanpa halangan.

I Hope so.. Ekonomi Indonesia yang sedang bangkit sekarang ini sangat ama wajib di imbangi dengan penjagaan kedaulatan yang kuat pula baik matra udara laut dan darat. Memiliki sistem pertahanan udara yang capable sehingga   mampu mencegah pihak asing bermain-main seenaknya diwilayah kita serta meningkatkan bargaining militer kita pada dunia.

Note : Saya tak melarang tulisan saya di copas asal sesuai aturan dengan mencantumkan narasumbernya langsung.

Iklan

6 thoughts on “HQ-16, Pilar Sementara Sistem Pertahanan Udara Nasional

  1. Menurut saya sangat penting perlengkapan perang kita di laut diperbanyak dan ditingkatkan, karena sudah saatnya kita menjaga NKRI ini agar tidak diklaim negara tetangga terutama di wilayah laut…

    Balas
  2. kalau menurut saya alangkah baiknya jika manusianya yg di sempurnakan.
    seperti bapak2anggota dewan yg terhormat jgn cuma d3(datang duduk diam dan duit)

    Balas
  3. takut indonesia jaya-jayanya militernya pada masa 1960 dengan alutsista yang benar – benar membuat indonesia dikenal negara terkuat seasia tenggara ( thun 1960 pas indonesia masih bekerja sama dengan uni soviet )

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s