Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Slamet

Gunung Slamet - Panoramio

Gunung Slamet – Panoramio

(Sebuah artikel lawas yang belum sempat terpublish.. )

Sudah ratusan tahun keluarga ane bermarkas dan mendirikan klan disebuah kota kecil yang bertengger di kaki Gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa, Slamet namanya. Setiap pagi atau saat cuaca cerah dan mengkilap, silouet keindahan dan kegungan gunung Slamet begitu mempesona siapa saja yang memandangnya, membuat temperatur kota dan masyarakat tetap stabil dalam suhu udara yang sejak, adem dan asri, sangat tepat sebagai kota hunian dan pendidikan. Gunung Slamet merupakan Gunung berapi aktif tertinggi kedua Setelah Gunung Semeru di Pulau Jawa, memiliki ketinggian 3.428 Mdpl dan berada pada poros yang dilingkari 5 Kabupaten  Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang.

Kembali ke mendaki, Meski terlahir di kaki gunung ini, ane sebelumnnya tak pernah berkeinginan untuk mendaki gunung Slamet, padahal banyak para pendaki dari berbagai penjuru tanah air bersemangat hadir untuk menaklukan ketinggiannya. Yah, mungkin memang mendaki bukanlah hobi ane, ketertarikan ane untuk menggapai puncak Slamet terwujud karena merasa tertantang dan penasaran dengan cerita teman yang sering kali mendaki Slamet. Pada 2011, niatan untuk mendaki gunung Slamet mencapai klimaks, sayang masalah manajemen waktu menjadi Obstacle nya. Hingga Tuhan memberikan jawaban pada awal Januari 2014 lalu tatkala Adik ane yang hobi mendaki, merespon keinginan ane dengan mengajak mendaki Gunung Slamet bersama team nya.

Beristirahat @Pos 7 sembari memulihkan energi

Beristirahat @Pos 7 sembari memulihkan energi

Persiapan
Berbeda dengan kesiapan pada 2011 silam, saat ini kondisi fisik dan perlengkapan ane berada dalam status underpressure and not ready for Battle. Badan kayak krupuk di goreng ; Melar, karena sudah beberapa bulan jarang berolahraga, kondisi berada stamina jauh dari standar seharusnya. Di sektor Gear, Perlengkapan mendaki hanya tersisa sepucuk Pisau buah, Jaket, dan sebuah Daypack. Himbauan dari adek ane untuk minimal berolahraga dan mengbugarkan tubuh secara intens seminggu sebelum hari H tak digubris, Hanya berbekal semangat dan keinginan saja, ane membulatkan tekad alias nekad untuk merasakan nikmatnya mendaki gunung. Dengan perlengkapan seminimalis ini, ane memang dipastikan menjadi Pendaki newbie berparasit alias menggantungkan harapan hidup nya pada pendaki lain yang membawa perlengkapan dan logistik memadai. Satu satunya makanan yang ane beli sendiri adalah sekotak Lemon Tea Sachet.

On the Way

Waktu pendakian dimulai, ane, adik dan dua orang teman nya memulai beraksi pada pukul 4 sore dengan tujuan pertama mencapai POS 1 sebelum maghrib menjelang. Tak lama berselang, Hujan gerimis mulai menyambut dan makin melebar menjadi hujan sedang. Pos demi pos dilalui dengan sederet problematika umum yang muncul, dan semuanya berhasil dilalui ane yang amatiran dengan penuh perjuangan ditengah stamina yang langsung terkuras deras. Berkali kali ane berhenti sambil menahan rasa sakit, pegal, dan gemetar dari pinggang hingga ujung kaki. Bak lampu dada Ultraman yang terus menerus mendentingkan ringtone tanda waktu dan energi mencapai garis merah, pusing mulai menjalar dikepala, kelopak mata semakin berat dibuka. Saking lemesnya, ane sering kali berbuat kesalahan yakni mengeluh dan mengeluarkan kata-kata yang hopeless banget. Berbekal dorongan dari adik ane dan doa sedikit demi sedikit energy bar di tubuh ane mulai berkedip tanda ada proses charging.

Selepas dari pos 9, puncak sudah terlihat sangat dekat, inilah medan pendakian terakhir dimana ane harus melewati batu batu merah berpasir dengan derajat kemiringan cukup ekstrim. Adegan dan pemandangan ini mengingatkan ane pada perjuangan Jason di Power Rangers, saat itu Jason harus mencapai puncak sebuah gunung sambil diserang oleh seekor Megazord liar. Sayang pergulatan mencapai puncak harus dihentikan karena cuaca sudah tak bersahabat tersandera oleh kabut tebal, angin plus hujan gerimis.

Menyongsong pagi hari @Pos 1

Menyongsong pagi hari @Pos 1

The Down
Gagal menikmati puncak, ane dan kawan2 pun bergegas turun berpacu dengan jam yang sudah menunjuk pukul 4 sore. Dari pos 7 tanpa berhenti lama, kami langsung merangsek melewati pos 6,5,4,dan 3 dengan cepat. Saat turun menuju pos 2, langit sudah berubah gelap, jam menulis pukul 18.30 malam. Nah, sesudah pos 2 inilah ane merasakan kembali jalur death march, jalur yang membuat kaki bergetar hebat baik saat naik ato turun. Butuh waktu berjam jam dari Pos 2 ke Pos 1, apalagi kondisi malam, gerimis dan becek, perlu extra hati hati jangan sampai tergelincir. Pukul 9 malam, akhirnya tiba di Pos 1, dan bersyukur ketika hujan deras turun kami sudah masuk ke pondokan. Hawa dingin mulai menjalar menembus tulang, meski tak sedashyat musim dingin di eropa ,bayangan akan hiportemia berkecamuk di pikiran. Setelah meneguk satu gelas susu hangat, rasa dingin mulai bisa dikendalikan. Esoknya paginya, kami langsung bergegas turun menuju base camp dengan cuaca yang cukup cerah walau matahari masih tampak malu untuk keluar sepenuhnya.

Last, Sebuah pengalaman berharga sehingga jika suatu saat ane diberi kesempatan untuk mendaki puncak Gunung kembali, ane pastikan hadir dengan persiapan yang lebih matang dan strategis. Selain, Fisik, mental dan logistik, disektor peralatan ane berharap sudah dapat membekali diri dengan gear khusus seperti Jet Pack atau Eksekeleton Legs. Banyak manfaat seru ketika mendaki antara lain dapat sharing pengalaman dengan banyak pendaki lain dari berbagi daerah, Belajar untuk tidak egois, Belajar Sabar dan Belajar arif untuk tidak merusak/mengotori alam. Mendaki bisa jadi refleksi hidup bahwa untuk menggapai tujuan/cita cita yang mulia tidaklah mudah, hal ini mengajarkan manusia untuk tabah dan teguh menghadapi berbagai cobaan hidup sebelum mencapai kesuksesan atau menikmati kebahagiaan yang didambakan.

Iklan

10 thoughts on “Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Slamet

  1. Keren bro, ane dlu ga tau dr guci naik ke slamet, sprtinya bukan puncak… Kalo ane asli brebes, jd sering liat siluet slamet kalo pagi… Tinggi juga bro, dr brebes masih kelihatan… Thanks for sharing

    Balas
  2. wah pengalamanya pasti seru ya bro, ane juga suka ndaki gunung bro dri kelas 6 SD ama temen2 kita berangkat jam 5 pagi tujuan kita sih cuma lihat matahari terbit kegiatan ini ane lakuin sampe kelas 2 SMP, lama ea jadi alhamdulilah gunung yang didepan rumahku sudah terexplore dri ujung ke ujung, kita sih tiap ndaki ngak pernah bawa bekal makanan cuma bawa air minum dari rumah ma bawa golok buat nebas buah nanas kebetuluan gunung yang kami daki buah nanas tumbur liar ama buah jambu monyet, resikonya sih lidah gatel kalu habis makan buah nanas tanpa dicuci, kangen juga sih pengen ndaki lagi kaya pengen ke gunung bromo, tapi stelah nyari referensi niat itu urung dilaksanakan karena untuk biaya ke gunung bromo paling tidak harus bawa minimal uang 500 ribu mengingat ongkos hidup yang mahal disana mulai dari penginapan, harga makanan dll jadi nunggu adal rezeki dulu.

    Balas
    • iya bro, ane sbtlnya ketagihan jg mendaki trutama ke bromo, tp wjib nyiapin kondisi fisik prima, budget n waktu :-D.

      Balas
  3. wuihh.. “pake lampu dada Ultraman yang terus menerus mendentingkan ringtone”
    Inyong malah rung tau jeh, liwat jalur purbalingga kyne mandan kpenak hehehe *mimpiiii.. :mrgreen:

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s