Bye-Bye FIFA

Tahun 2015 bisa dipastikan sebagai masa kegelapan The Dark Age bagi dunia kesepakbolaan tanah air, peristiwa ini menjadi momok yang kelam, ngenes, menakutkan dan ngelus dada bagi para pecinta atau masyarakat sepak bola tanah air. Tetapi bagi pihak lain, dalam hal ini bukan penggemar bola, semi penikmat bola atau bahkan golongan gak suka bola sama sekali justru mungkin beranggapan bahwa era kegelapan inilah dapat didayagunakan sebagai highly momentum melakukan pembenahan, reformasi dan restrukturisasi total frontal menyeluruh. Berbagai kisruh yang mewarnai sepak terjang kepengurusan PSSI dalam pergelatan sepak bola Nasional seolah bak baja adamantium yang sulit tertembus oleh angin perubahan apapun.

Berbekal Statua FIFA sebagai senjat tangguh pemusnah masal, serangan apapun dapat dipadamkan seketika, Himbauan, Hirauan, Protes, Kritik, Saran yang berhamburan ditujukan kepada PSSI sejak puluhan tahun silam seolah lewat begitu saja. Stagnanisasi mengakar dalam kinerja PSSI dan Prestasi Timnas Sepak Bola yang tak kunjung mendapat segenggam Piala pun di ajang Internasional. Sedih, terenyuh, kecewa dan jengkel atas keadaan ini sehingga setiap Menteri Pemuda dan olahraga baru diharapkan dapat menemukan solusi nyata membenahi kegaduhan dunia sepakbola nasional. Di Era Menpora Imam Nahrawi saat ini, yakin pasti beliau berkeinginan untuk membangkitkan kejayaan sepakbola nasional namun terlihat langkahnya membuntu dalam menembus baja adamantium PSSI dengan Statua FIFA sebagai Destroyer nya. Terpojok oleh waktu dan publik, bisa jadi keputusan nya membekukan PSSI merupakan langkah putus asa terakhir, Hopeless. Tak ada pilihan lagi, usahanya mengganti PSSI dengan Tim Transisi terbukti useless.

Dukungan kembali mengarah agar PSSI dicairkan kembali, Harga Diri Menpora dipertaruhkan, Battle beraura Politik Terjadi , PTUN menjadi wasitnya, Wapres menjadi promotor PSSI, Presiden menjadi promotor Menpora ,saling tarik menarik  terjadi hingga tali tambangnya digunting pakai cutter oleh penjatuhan Sanksi FIFA. Keanggotaan Indonesia di FIFA dicabut, dilarang melakukan pertandingan internasional dan hanya diperbolehkan di tingkat SEA GAMES. Kegaduhan yang berujung pada senyum masam di seluruh bibir masyarakat bola nusantara…. SHUTDOWN.

ISOLASI diri, ya itulah mungkin pilihan pahit bagi dunia sepak bola tanah air, bertapa, belajar, evaluasi diri dalam usaha berbenah total ke arah yang diharapkan. Bagaikan seorang pendekar bimbang yang memilih bertapa agar mendapat wangsit petunjuk obat kembimbangannya, makna ISOLASI diri tak melulu berefek negatif. Bila pikiran penat, yang dicari adalah tempat yang sejuk, sunyi dan asri guna mengurai benang keruwetan di kepala. Berharap bagi semua pihak kini saling menenangkan diri, instropeksi diri untuk kemudian bergandengan tangan kembali membangun dunia sepakbola tanah air.

Jalan menuju perbaikan tetap terbuka, tombol power dan restart masih berfungsi baik, Masalah FIFA urusan nanti bila semuanya beres. Sebuah Intervensi oleh Pemerintah/Negara apapun bentuknya, selama demi tujuan mulia, selama PSSI masih menerima usang saku dari Negara, maka tetaplah diperbolehkan. Masyarakat yang akan menilai dan mengawasi.

Mari sukseskan pembenahan PSSI dan Prestasi Sepak Bola Tanah Air, dari Dark Age menuju Golden Age, karena.. Salah satu ciri negara maju adalah, tim sepak bolanya maju dan berprestasi.

Iklan

3 thoughts on “Bye-Bye FIFA

  1. banyak netizen dan televisi swasta yg memblow up masalah ini dari sudut pandang yg mengesankan menpora harus bertanggung jawab atas sanksi ini. tp dari sudut pandang yg lain saya malah melihat ini pemerintahan yg berani utk membenahi carut marut negeri ini. semoga saja langkah ini benar2 memecut prestasi ke depan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s