Menanti bangkitnya Skudron 41 dan 42 TNI AU

Gambar(TU-16 Badger, mantan penghuni utama skuadron 41)

Di masa kejayaan TNI AU, skuadron 41 dan 42 adalah sarangnya para mbaurekso udara, monster-monster angkasa yang ditakui diseluruh langit Asia tenggara. Rumah bagi skuadron pesawat pembom strategis, TU-16 Badger yang dimasa itu didatangkan demi meningkat taring dalam pergelaran Operasi Trikora membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Kerajaan Belanda. Seiring gonjang ganjing politik yang menyelebunginya, nasib dari para pembom Strategis ini berakhir tragis, umur tugasnya yang masih seusia jagung dipaksa dimatikan pada awal tahun 1970-an. Praktis setelah peristiwa muram ini, Angkatan Udara tak lagi memiliki monster udara yang sangat dibanggakan, kebijakan pemerintahan orde baru tak lagi memprioritaskan Angkatan Udara sebagai matra yang agresif dan ditakuti kawasan. Kini, dengan bergejolaknya perkembangan, situasi, konsi pertahanan dan keamanan di kawasan terkait semakin panasnya drama perlombaan senjata, gesekan perbatasan dan pelanggaran kedaulatan seperti membuka mata batin yang memaksa para petinggi Hankam Republik ini memikirkan kembali kenangan masa lampau ketika langit nusantara masih dijaga oleh sang monster udara.

Baca lebih lanjut

Iklan

Alutsista Misterius TNI dan Kegelisahan Negara Tetangga

575282_20140103080749

Intro

Adanya ajang perlombaan senjata (Arms Race) diantara kawasan yang belum tercipta sebuah aliansi adalah hal yang wajar. Memasuki abad 21, kawasan Asia khususnya Asia Pasifik mulai dimeriahkan dengan perlombaan kepemilikian Alutsista (Alat utama sistem Persenjataan) Canggih, ini tak lepas dari meningkatnya suhu perekonomian dunia yang kini bermigrasi dari Eropa/Amerika ke Asia. Negara negara yang paling antusias dalam kompetisi adu senjata biasanya terdorong oleh adanya permusuhan terselubung atau karena ada ancaman yang sangat serius dari negara sekitarnya, diantaranya Iran, China, India, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Singapura, Pakistan, Vietnam, Australia dan Indonesia. Jika diantara negara ini berencana atau tengah membeli Alutsista Strategis, maka negara sekitarnya akan turut terkompor untuk melakukan hal yang seirama, Jenis Alutsista tandingannya berbeda beda tergantung pada kebijakan politis dan anggaran yang dimiliki.

Baca lebih lanjut

Proyek Srikandi, Nyata, Hoax atau Fiksi Ilmiah??

Srikandi

Srikandi, sebuah nama yang sangat popular ditanah jawa, nama dari seroang dewi dalam khazanah pewayangan nusantara ini kabarnya tengah disematkan sebagai nama dari sebuah projek nasional dibidang Alutsisa strategis, Pesawat tempur. Bagi ane, informasi soal adanya projek Srikandi sudah cukup lama terlambat diketahui, hasil dari bersemedi bersama paman google menunjukan bahwa hembusan berita tentang Srikandi sudah melayang sejak tahun 2010 silam. Sebenarnya, upaya untuk mengembangkan pesawat tempur nasional bukanlah hal yang baru atau misterius, semenjak Republik masih dalam usia merangkak, beberapa pioner ahli pesawat nasional telah berusaha merancang dan membangun sendiri pesawat tempur, meski pada ujungnya upaya-upaya ini karam ditengah jalan akibat berbagai kendala seperti keterbatasan dana, Sarana penunjang, hingga minimnya dukungan kuat dari pemerintah.

Baca lebih lanjut

LHD dan peran strategisnya guna mendorong kekuatan Maritim TNI AL

mistral-warships

Mistral Perancis, pilihan utama bagi TNI AL. Selain sudah teruji, TNI punya pengalaman bertransaksi dengan Perancis.

About LHD

Amphibious Assault Ship atau lebih asyik disebut Landing Helicopter Dock (LHD) adalah sejenis kapal perang yang dilihat dari bentuknya mirip seperti Alter Ego nya Kapal Induk/AirCraft Carrier. Kapal jenis ini dirancang dengan kemampuan serbaguna (multipurpose) seperti mengangkut kendaraan-kendaraan amfibi, Helikopter ,pesawat tempur berkemampuan STOVL seperti AV-8 Harrier,F-35B Lightning II hingga helikopter kawin silang MV-22 Osprey. Tak banyak negara yang mengoperasikan LHD di angkatan lautnya, jumlahnya masih bisa dihitung jari, semisal Amerika (Wasp Class), Perancis (Mistral Class), Korea Selatan (Dokdo Class), Jepang (Hyuga Class), Spanyol (Juan Carlos Class) dan Australia (Canberra Class).

Dalam perkembangan ditubuh AL Amerika Serikat, LHD dapat dimodifikasi menjadi Landing Helicopter Assault (LHA) dimana LHD jenis ini lebih dikhususkan untuk mengangkut alutsista berstatus otensif (menyerang). Untuk pertahanan diri, LHD dapat dilengkapi dengan sejumlah Defensive System misalnya Anti-Torpedo Towed Defense System (Nixie), Close in Weapon Sytem dan Active missile decoy system (ex Nulka) atau bisa juga mendapatan kawalan (escort) dari beberapa Frigate dan Kapal selam layaknya Carrier.

Baca lebih lanjut

S60, Legenda Hidup Sistem Pertahanan Udara Republik Indonesia

59-57mm-aa-gun

S60, sebuah nama yang tak asing lagi untuk di searching di google, namanya dipakai oleh banyak pihak, mulai dari nama Software Platform S60 (Symbian OS), nama Sedan Premium Volvo S60, Canon PowerShoot S60 hingga  Nikon CoolPix S60. Sebelum dipakai pada produk2 elektronik atau otomotif, S60 adalah nama keramat untuk sebuah senjata meriam anti serangan udara yang sudah sangat Battle Proven dan tangguh disegala medan. Karena kehebatannya, menyongsong dekade 1960 an, TNI memborong puluhan unit S60 dari Uni Soviet sebagai persenjataan utama korps Arhanud TNI AD. Kehandalannya terbukti sangat teruji di bumi pertiwi dan memuaskan banyak pihak di tanah air sehingga ketika ada event-event atau defile militer dipastikan S60 wajib tidak boleh hadir, sosoknya telah menjadi Icon, Brand Mark luar biasa bagi korps Arhanud TNI AD dan masyarakat pada umumnya.

Baca lebih lanjut

Mengenal Jet Tempur Ringan Saab JAS Gripen, Kandidat pilihan pengganti armada F-5 Tiger TNI AU

gRIPEN

Jet Tempur F-5 E/F Tiger II TNI AU mulai berdinas melindungi langit nusantara di tahun 1980 an, sebelum kehadiran jet tempur F16 A/B Fighting Falcon di jajaran TNI AU, F5 Tiger adalah tulang punggung sekaligus jet tempur andalan TNI AU. Jet tempur buatan Northop Amerika ini, mulai tiba di tanah air pada tanggal 21 April 1980 dengan varian 12 unit kursi tunggal (F-5 E) dan 4 unit kursi ganda (F-5 F). Meski Sebagian kecil masa usia operasional F-5 Tiger TNI AU sudah diperpanjang berkat upaya modernisasi jeroan dengan teknologi masa kini, akan tetapi tak ada salahnya kalau TNI masih memiliki anggaran atau diberikan anggaran lebih untuk pengadaan jet tempur baru pengganti armada F-5 Tiger yang memang secara usia sudah layak dimuseumkan. Nah andaikata TNI AU khususnya skuadron 14 tempat F-5 Tiger bernaung diberikan lampu hijau untuk menambah koleksi baru, maka salah satu Jet Tempur pengganti yang cukup potensial adalah Saab Jas 39 Gripen buatan Swedia.

Baca lebih lanjut

Saatnya TNI meraih Superioritas laut dan udara di kawasan

Gambar

Picture by arc.web.id

Sejarah baru terukir

Kavaleri TNI AD akhirnya memiliki Tank Tempur kelas berat. Batch pertama pengiriman 2 unit Main Battle Tank Leopard 2A4 dan 2 IFV Marder 1A3 dari Jerman tiba di pelabuhan Tanjung Priok beberapa hari lalu dengan lancar. Setelah sekian puluh tahun semenjak lahirnya TNI AD hingga sekarang, pasukan kavaleri kita terus berkutat dengan tank – tank kelas ringan (Light Tank) seperti AMX 13 dan Scorpio, bila harus di show off kan dengan punya tetangga yang memiliki MBT PT91 dan Leopard, light tank kita terlihat seperti mainan saja, sungguh memiriskan mata.

Baca lebih lanjut