S60, Legenda Hidup Sistem Pertahanan Udara Republik Indonesia

59-57mm-aa-gun

S60, sebuah nama yang tak asing lagi untuk di searching di google, namanya dipakai oleh banyak pihak, mulai dari nama Software Platform S60 (Symbian OS), nama Sedan Premium Volvo S60, Canon PowerShoot S60 hingga  Nikon CoolPix S60. Sebelum dipakai pada produk2 elektronik atau otomotif, S60 adalah nama keramat untuk sebuah senjata meriam anti serangan udara yang sudah sangat Battle Proven dan tangguh disegala medan. Karena kehebatannya, menyongsong dekade 1960 an, TNI memborong puluhan unit S60 dari Uni Soviet sebagai persenjataan utama korps Arhanud TNI AD. Kehandalannya terbukti sangat teruji di bumi pertiwi dan memuaskan banyak pihak di tanah air sehingga ketika ada event-event atau defile militer dipastikan S60 wajib tidak boleh hadir, sosoknya telah menjadi Icon, Brand Mark luar biasa bagi korps Arhanud TNI AD dan masyarakat pada umumnya.

Baca lebih lanjut

Waspada, Indonesia sudah ‘dikepung’ militer asing

Gambar

Minna san,

Disaat kondisi dalam negeri nasional tengah dirundung masalah tak berujung di bidang Korupsi seperti Misteriusnya akhir dari kasus BLBI, Mandegnya kasus Century, Molornya kasus hambalang, hingga hangatnya kasus SKK Migas, dibidang ekonomi juga tak kalah kelam seperti Ribetnya pengambilalihan perusahaan Inalum, Bangkrutnya Maskapai BUMN Merpati. Dibidang Hukum juga sama, seperti Kasus Hilangnya 250 batang Dinamit yang seolah di peti eskan , Kerusuhan di Lapas hingga penembakan anggota Polisi (jadi bingung, siapa sih yang menyetir negeri ini?). Berbagai masalah yang hinggap di masa kepemimpian kedua Presiden SBY ini terlihat sangat menguras energi Negara untuk lebih berkutat di dalam negeri sampai porsi perhatian untuk masalah luar negeri dan geopolitik pun seolah berkurang drastis.

Baca lebih lanjut

HQ-16, Pilar Sementara Sistem Pertahanan Udara Nasional

Hmm.. ane memulai menulis artikel ini dengan perasaan campur aduk antara bangga dan kecewa, bangga karena ternyata tulisan ane di blog ini “laku” dan disebar oleh orang lain. Kecewa karena tulisan ane di copas tanpa mencantumkan sumbernya. Baru pertama ini ane ngerasain gimana suka dukanya kena main copas tanpa aturan. Ok, Bom sudah jadi asap, sekarang  lebih baik go to the point.

Minna san,

Sudah cukup lama bahkan lama sekali wilayah udara nasional kita seolah tak terlindungi satu payungpun. Konsep sistem pertahanan udara nasional hingga era pencapaian MEF (Minimum Essensial Forces) sekarang belum juga mencapai kata final. Kemandirian dalam hal teknologi roket melalui proyek RX550 sampai sekarang juga mengalami banyak rintangan hingga kabar proyek ini seolah hilang ditelan isu2 politis. Sistem Pertahanan Udara Nasional sejatinya tak terlepas dari perkembangan TNI AU, hanya karakternya lebih dominan untuk daya tangkal dan perlindungan kedaulatan wilayah udara dari gangguan luar sesuai dengan namanya, Air Defence.

Baca lebih lanjut

Pantsyr S-1 dan S-300, Kombinasi pas buat Arhanud TNI

GambarMina san,

Melihat perkembangan persenjataan yang terjadi disekitar RI dan aspek lain yang mengikuti seperti kebutuhan akan penting kekuatan pertahanan demi menjaga keamanan domestik dan menjaga keutuhan kedaulatan dari ancaman yang muncul karena perkembangan situasi yang dinamis. Menyusul kampanye modernisasi kekuatan militer RI sesuai pedoman Minimum Essential Forces (MEF), ketiga matra TNI pelan namun terarah sudah mulai menunjukan adanya perubahan dalam alutsista masing2. TNI AU sudah memiliki proyek pembelian T-50 GE, Airbus C295, SuperTucano, dan lainnya, TNI AD sedang menjajaki pembelian 8 unit AH 64 D Apache Longbow, 100 biji Leopard dan 50 IFV Marder, Rudal StarStreak, dll kemudian TNI AL masih berkutat dengan program penambahan KCR, Frigate, Kapal Selam, selain itu uji coba rudal Yakhont juga ikut menambah daya serang TNI AL.

Baca lebih lanjut