PAK TA, Ambisi terbaru Kekuatan Militer Federasi Rusia

PAK TA

Gaya pertahanan Rusia kini telah berubah tajam, tak lagi mengandalkan gaya pertahanan klasik konvensional peninggalan Soviet yang terkesan kaku disana sini. Zaman telah berubah, konstelasi konflik berkembang dinamis linear dengan perkembangan teknologi militer apalagi setelah konfrontasi Rusia versus NATO yang dipicu oleh aneksasi Crimea dan campur tangan Beruang merah di tanah ukraina. Berubah atau tertinggal, mungkin berada dalam benak para petinggi militer Rusia terutama sang Presiden Vladimir Putin yang menginginkan kejayaan Rusia kembali pulih ditangannya. Dalam berbagai matra, terjadi modernisasi besar-besar ditubuh militer, peluncuran kapal selam baru, system pertahanan udara baru, pesawat generasi ke lima, dan sebagainya. Di ranah kekuatan udara, muncul wacana tentang rencana produksi pesawat angkut raksasa yang dapat mengantarkan pasukan besar ke seluruh penjuru dunia dalam waktu 7 jam saja. Pesawat Transportasi ini mendapat julukan sebagai PAK TA. Sepertinya akan menjadi tandem bagi pesawat pembom masa depan Rusia, PAK DA (perspektivnyi aviatsionnyi kompleks dal’ney aviatsii / prospective aviation complex for long-range aviation) yang juga dalam tahap pengembangan.

Baca lebih lanjut

Menanti bangkitnya Skudron 41 dan 42 TNI AU

Gambar(TU-16 Badger, mantan penghuni utama skuadron 41)

Di masa kejayaan TNI AU, skuadron 41 dan 42 adalah sarangnya para mbaurekso udara, monster-monster angkasa yang ditakui diseluruh langit Asia tenggara. Rumah bagi skuadron pesawat pembom strategis, TU-16 Badger yang dimasa itu didatangkan demi meningkat taring dalam pergelaran Operasi Trikora membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Kerajaan Belanda. Seiring gonjang ganjing politik yang menyelebunginya, nasib dari para pembom Strategis ini berakhir tragis, umur tugasnya yang masih seusia jagung dipaksa dimatikan pada awal tahun 1970-an. Praktis setelah peristiwa muram ini, Angkatan Udara tak lagi memiliki monster udara yang sangat dibanggakan, kebijakan pemerintahan orde baru tak lagi memprioritaskan Angkatan Udara sebagai matra yang agresif dan ditakuti kawasan. Kini, dengan bergejolaknya perkembangan, situasi, konsi pertahanan dan keamanan di kawasan terkait semakin panasnya drama perlombaan senjata, gesekan perbatasan dan pelanggaran kedaulatan seperti membuka mata batin yang memaksa para petinggi Hankam Republik ini memikirkan kembali kenangan masa lampau ketika langit nusantara masih dijaga oleh sang monster udara.

Baca lebih lanjut

Ukraina dalam genggaman Putin

19-the-legend-of-koizumi-vladimir-putin-1

Kelihaian seorang Putin

Nama Vladimir Putin terus mencuat semenjak keberhasilannya membawa negeri beruang merah meraih kebanggaannya dihadapan barat yang sempat terpuruk pasca bubarnya Uni Soviet. Pelan namun pasti Federasi Rusia dibawah Putin terus bermanuver untuk merebeut kembali hegemoni nya dari tangan Barat khususnya Uni Eropa. Setelah berhasil menunjukan kedigdayaannya pada Georgia 2008 silam, Putin kemudian merancang pembentukan blok tandingan Eropa, Eurasian Union dan mendukung habis habisan sekutu Arab satu satunya, Suriah. Impian Vladimir Putin untuk menyatukan seluruh negara eks Uni Soviet dilakukan dengan rencana dan taktik yang matang, sehingga tak terlalu memancing resiko terlalu besar yang dapat merusak Rusia seperti ancaman sanski dari Amerika dan Uni eropa. Terganggunya proses merangkul Ukraina melalui Presiden Yanukovich yang memilih pro Rusia tak membuat Putin patah arang, justru kesempatan ini dimanfaatkan dengan sebaik baiknya dan terkesan telah dipersiapkan sebelumnya. Usahanya membuahkan hasil dengan kembalinya Crime ke pangkuan Rusia, yang lagi lagi melalui kecerdikan Putin yang luar biasa. Militer Rusia terus diperkuat oleh Putin, meski sejatinya kekuatan fisik hanyalah alat bantu untuk mengamankan rencana putin untuk menciptakan permainan jangka panjang melalui Perundingan dan Upaya diplomatik yang diplot sebagai senjata peredam perlawanan Barat. Disisi lain, Eropa dan Amerika dibuat panik, gerah dan bermain tebak tebakan karena mereka belum memahami apa langkah putin selanjutnya.

Baca lebih lanjut

Potensi Kamov Ka-27/28 bagi armada Helikopter AKS TNI AL

www.richard-seaman.comProduk blok Timur (Rusia) seolah menjadi alternative utama apabila merasa sudah terlalu bosan memilih produk blok Barat yang beragam jenis dan harganya. Salah satu unsur kekuatan TNI yang masih membutuhkan perhatian mendalam adalah modernisasi armada helicopter Anti Kapal Selam (AKS) TNI Angkatan Laut. Pasca era keemasan pada decade 1960s, TNI AL nyaris tak memiliki armada Heli AKS yang berkualitas tinggi, Di zaman Orde Baru TNI AL/Penerbal sempat mengoperasionalkan helicopter superpuma varian AKS, sayangnya masa tugas Heli ini tak berlangsung lama karena berbagai musibah yang mengikutinya. Saat ini, armada Helikopter TNI AL (Penerbal) masih mengandalkan helikoper NAS332 SuperPuma, NBell 412 dan NBO 105 sebagai backbone untuk berperan sebagai helicopter AKS. Adanya proyek MEF (Minimum Essential Forces) memberikan angin sejuk pagi pengadaan Helikopter AKS canggih, sempat muncul banyak varian yang berpotensi dipilih oleh TNI Al, yakni Sikorsky SeaSprite, Agusta Westland dan AS565 MB Panther.

Baca lebih lanjut

Sejarah Penyelamatan Kapal Selam ‘Paus Besi’ Rusia, KURSK

Gambar

The Real monster of Sea, benar benar paus besi

Pada 12 Agustus 2000, terjadi Sebuah bencana paling buruk dalam sejarah angkatan laut Federasi Rusia . Catatan kelam ini berasal dari drama kecelakaan tenggelamnya kapal selam raksasa bertenaga nuklir, Kursk di  tengah Laut Barents yang sangat dingin. Kursk mengangkut 118 awak yang sedang dalam perjalanan Return to the Base seusai mengikuti latihan militer dengan sandi Shockwave. Kapal selam dengan bobot 14.000 ton ini secara tiba tiba meluncur bebas ke dasar laut dan tergeletak tak berdaya. Para awak Kursk segera mengirim tanda SOS dengan cara mengetuk ngetuk badan kapal selam, berharap suara mereka terdengar oleh tim penyelamat. Selang 2 hari kemudian, gemuruh ketukan para awak tak lagi terdengar, derap kematian mulai mengepung seluruh penghuni Kursk.

Baca lebih lanjut

Rudal Hipersonik, Seluruh Bumi dalam genggamannya.

FalconIntro

Ada yang berpendapat bahwa teknologi Stealth yang sesungguhnya bukanlah bentuk yang membelokan pelacakan radar atau Low Observer Reliability seperti bentuk pesawat B-2 Spirit, F22 Raptor atau F-35 Lightning II melainkan faktor Kecepatan alias Speed is New Stealth.  Keunggulan disektor Kecepatan saat ini melekat pada rudal Hipersonik (Hypersonic Cruises Missiles) berkecepatan 5 kali kecepatan suara atau March 5. Rudal Hipersonik pada hakikatnya adalah pengembangan dari Peluru kendali antar benua atau intercontinental ballistic missiles (ICBMs) ,Rudal jenis ini mampu mengangkut hulu ledak Nuklir atau bahan peledak konvensional dengan daya jelajah yang sanggup mencapai target seantero Bumi dengan kecepatan dan Ballistic Trajectory yang sulit dihadapai oleh sistem pertahanan udara saat ini.

Baca lebih lanjut

Roket RX-550, Masa depan penguasaan teknologi Antariksa dan Rudal Balistik Nasional

Satish Dhawan Space Centre, Sriharikota, India.  Masa depan Morotai Space Center Maluku, Indonesia.

Satish Dhawan Space Centre, Sriharikota, India. Masa depan Morotai Space Center Maluku, Indonesia.

Pengangkut Satelit dan Peluru kendali

Ambisi Indonesia untuk dapat membawa sendiri satelitnya ke luar angkasa adalah salah satu upaya mewujudkan kemandirian bangsa dalam teknologi antariksa. Ada kebanggaan atau Pride tersendiri apabila sebuah negara dapat menguasai teknologi di bidang antariksa sehingga bisa disejajarkan dengan kelompok negara yang sukses mengirimkan satelitnya sendiri seperti Amerika, Rusia, China, Jepang, India, Iran, dsb. Selama ini, untuk mengorbitkan satelit ke angkasa luar, Indonesia harus mengeluarkan kocek mahal untuk membayar kepada negara yang memiliki wahana peluncur satelit. Terakhir pada pertengahan 2012 lalu, Satelit Telkom-3 milik Indonesia gagal mengorbit akibat Roket Proton M milik Rusia mengalami kerusakan dan  sebelumnya satelit buatan LAPAN, TUBSAT pun harus nebeng roket PSLV 7 India untuk diorbitkan.

Baca lebih lanjut